Embun di Surau Desa

Subuh itu hadir begitu sunyi dari suara pabrik-pabrik Tuan gabah, sunyi dari laju mobilitas kendaraan manusia berburu rezeki, tak seperti biasanya, kecuali terdengar suara burung-burung pipit dari kejauhan bercuit-cuit terbangun sesekali, hanya demi berebut selimut pengusir dingin di atas ilalang, karena gerimis mulai turun, udara jadi lembab dan basah di luar surau.

Subuh kali ini benar-benar hadir dengan kesempurnaan sunyi di bawah kaki langit Rinjani, mungkin manusianya masih terpesona dan asyik berlomba memanjat tangga ke surga dalam mimpi, padahal Tuhan telah memanggil manusia Assola’tuhairum’minannaum tiga puluh menit lebih awal dari pukul 05:01 WITA.

Pencahayaan surau memang agak meredup subuh itu. Andaikan cahaya itu bisa berbicara layaknya manusia mungkin akan berbicara seperti Syair Mustafa Chamran “Mungkin aku tak dapat mengusir gelap ini, tapi dengan nyala nan redup ini, ku ingin tunjukkan pada gelap dan terang, kebenaran dan kebatilan, orang yang menatap nyala, meski temaram, kan nyala terang di hatinya yang dalam.”

Di subuh itu yang terpangil hadir masih bisa terhitung jari, mulai dari jari kelingking hingga jari telunjuk, begitu juga dengan saff yang ada dibarisan belakang, hanya dihadiri oleh ibu-ibu yang usianya sudah hampir dilumat senja. Sebuah fenomena yang begitu lazim dan tidak mengherankan di tengah laju zaman yang serba mekanik dan instan. Surau ini justru lebih awal dihadiri oleh bebarisan rapi para cecak dan nyeyamukan ketimbang manusia yang berTuhan dan berakal itu.

Di desa ini jumlah penduduknya 1.900 jiwa, dari infografis penduduknya mayoritas berprofesi sebagai petani padi, dikuatkan dengan letak geografis desanya dengan hamparan persawahan luas membentang, padinya di panen dua kali dalam setahun tidak lebih dari itu sebab sistem irigasinya yang belum sepenuhnya membaik. Tak pernah alpa ramuan doa “Robbana atina fid’dunya hasanah wa’fiahirotihasan wakina’azabannar” setiap kali selepas memenuhi pangilan Kekasih di sini.

Tampak embun-embun hadir bagai hujan, titiknya membasahi seluruh permukaan ilalang, permukaan persawahan dan juga permukaan gubuk para Petani. Anehnya embun tak hanya membasahi seluruh permukaan yang beratapkan lelangitan, namun juga kali ini embun telah membasahi bagian yang tersublim dalam diri manusia “hati dan jiwanya” pun juga ikut jadi lembab dan basah saat pagi datang memeluk bumi. Di sanalah embun terasa menjelma rerinduan membahasakan diri menuturkan perasaannya.

Kehadiran embun kali ini bak utusan para Nabi hendak menyampaikan titah bagi kaum papa dan lemah mengingatkan nilai-nilai fitrah, fitrah mengajak jiwa manusia agar mampu melampaui tabiat yang ada dalam dirinya. Dan tak ada jalan alternatif lain menghidupkan fitrah kecuali dengan sholat agar satu persatu tabiat itu terkelupas lalu lenyap, bukan penambahan juga bukan penegasan dari tabiat sebelumnya. Tabiat itu haruslah perlahan lenyap setiap kali mendirikan sholat, agar fitrah sampai pada maknanya yang sejati, menjadi lnsan yang tercerahkan dan tidak zalim pada seluruh manifestasi Tuhannya.[1]

Manusia yang terpesona dan asyik memanjat tangga ke Surga dalam mimpi satu-persatu telah terbangun. Sebagian sedang membaca koran (melihat pergolakan isue Pilpres 2019, isue korupsi, isue revolusi 4.0, mencari info lowongan perkerjaan), sebagian sedang menyerupi secangkir kopi, sebagian sedang menanak nasi untuk sarapan, sebagian sedang menghangatkan mesin kendaraan hendak ke sawah dan kantor, sebahagian sedang mengangkat telepon dicekik beban kehidupan beban itu tampak dari raut wajahnya yang murung “tunggakan bulan ini belum terbayar, petakan sawah kita mungkin akan tersita Tuan rentenir” dan sebagian lagi masih tetap mendengkur mungkin ia tengah di lntrogasi oleh malaikat penjaga Surga.

Dan perihal aku, telah melupa pada segala realitas di hadapanku, kecuali realitas terkasih yang selalu lekat dalam pikiran.[]

[Said mohammad]

Wotu, 13 November 2018

***

[1] QS. Al-ma’arij: 19-34. Jenis surah Makkiyyah teridiri dari 44 ayat, kata Alma’arij adalah kata jamak dari Mi’raj (tempat naik).

JEJAK LANGKAH

“Saya selalu bertanya Puan, kelak hendak kemana kita akan berpulang?! Setelah bosan mengembala cahaya senja dari savana ke savana.”

Pertanyaan itu selalu muncul setiap kali ku tatap lelangit dari teras rumah yang kian berwarna kelabu dengan gelombang keemasan tercoret bias cahaya senja yang temaram, lurus dengan permukiman para petani terbungkus mendung, banyangan pohon-pohon pinang yang berjejer rapat-rapat, seperti tiang-tiang gaib yang entah dari mana, pohon pinang itu seakan tengah menopang langit sore kesedihan.

Di lapangan ku lihat sekumpulan anak² tengah gembira bermain bola lepas tanpa beban, dalam pikirannya hanya mencetak gol sebanyak-sebanyaknya. Saya iri dengan usia mereka, usia yang begitu riang yang ada hanyalah kegembiraan menghabiskan waktu di bawah kaki langit Rinjani.[1] Persis dua puluh tahun yang silam masa² kegembiraan itu alpa dalam kehidupan, tak ada kenangan yang terpahat lekat dalam ingatan. Kini usia tua hanya berkalung kerinduan pada masa itu. Waktu terasa begitu cepat berlalu, ia tak pernah mau sedikitpun menunggu sedetik saja untuk memeluk kerinduan, kini waktu telah hadir tanpa halte.

Kini masa dewasa ialah masa yang maha rumit untuk dipahami dan dimengerti. Beban hidup telah menggiring usia hingga menuju ruang kematangan jiwa untuk bersikap arif, kematangan hati untuk merasa peka pada keadaan, kematangan ego untuk menunda keinginan yang tak perlu. Tak sedikit dari manusia saat ditimpa beban hidup yang bertubi-tubi datang silih berganti membuat mereka nekad memilih mati. Seperti yang diungkapkan oleh Albert Camus “manusia akan mengalami kematian itu, bila ziarah pikiran tak kunjung menemukan jawaban-jawaban pasti tentang dunia”.[2] Disanalah Albert Camus menawarkan kematian.

Dalam hidup yang terasa jemu, mekanik dengan serangkaian penderitaan yang ada. Maka hanya ada jalan bunuh diri, fisik atau filosofis, mengakhiri hidup dengan memisahkan ruh dan jasad atau berhenti memikir dunia. Ketika keadaan itu mendera, maka di saat itulah tawaran Albert Camus itu berlaku dan menggiurkan untuk dipatuhi. Tapi kaum Buddhis dan Agama memiliki pandangan yang berbeda soal itu.

Buddhis mengatakan “keinginan adalah sumber penderitaan“.[3] Perkataan ini adalah uangkapan yang logis. Seumpama anak kecil yang tengah meminta sebuah permen pada ibunya, lalu tidak kunjung diberikan maka seketika itu ia marah dan meraung-raung membuat anak itu menderita. Begitupun bagi seorang pemuda dewasa yang tengah jatuh cinta, ingin memiliki hati seorang gadis namun sang gadis menolak, maka seketika itu juga pemuda akan merasa terluka. Yaa, disaat itulah ungkapan itu terasa tepat “keinginan adalah sumber penderitaan” dan segala yang manusia inginkan tapi tak kunjung terkabulkan maka menderitalah hasilnya.

Lantas Agama memandang kehidupan manusia yang sedang berada dalam kubangan problematik kehidupan “hiduplah dengan penuh keberlmanan, tawakkal, Ikhlas dan lkhsan. Kehidupan di Dunia hanyalah sementara dan tempat persinggahan“. Sekalipun kelmanan terlampau sulit untuk digapai lalu direngkuh manusia, kecuali mereka manusia yang dikehendaki Tuhan.

Memang ajaran agama terbilang absurd, tapi tak jarang dalam ruang keabsurd-tan itu agama mengetuk kesadaran manusia untuk menemukan kejernihan pandangan tentang hidup bahwa segala problematik yang manusia cecapi hakikatnya adalah ujian semata dari Tuhan. Mungkin Tuhan hendak mengukur sejauh mana hambaNya sadar dan ikhlas menjalani peran sebagai khalifah, sebagai manifestasi Tuhan yang terpilih menyempurnakan jiwa, Akal, dan nafsunya dalam menjalani hidup. Dan agama mengisyaratkan dunia ini adalah persinggahan sementara dan kematian adalah hal yang pasti bagi setiap hambaNya.

Maka, kematian seperti uangkapan Albert Camus agak keliru, karena kematian bukanlah ahir dari segala kehidupan, melainkan awal perjalanan eksistensi manusia. Kematian adalah etape dalam hidup manusia, perpindahan dari kehidupan fana menuju kehidupan yang abadi. Disinilah kelmanan itu berasa dan amat berperan mempengaruhi gerak peradaban hidup manusia.

Begitulah fenomena cahaya senja temaram. Cahayanya bisa dimaknai berbeda bagi setiap orang yang memandang keindahannya, perbedaan cara memaknai senja bisa saja lahir dari caranya menangkap nomena dari sebuah fenomena hingga menghasilkan pemaknaan yang berbeda sesuai kondisi jiwa yang memandang keindahan senja, tidak terkecuali yang ku rasakan sore ini.

Manusia dan segala realitasnya mesti diyakini sebagai sebuah manifestasi Tuhan yang percikkan pada ciptaanNya. Tuhan adalah ruh segala sesuatu dan senantiasa bersemayam pada segala sesuatu, tak terkecuali dalam dadamu dan dadaku, ringkasnya di sana ada Tuhan.

Persis seperti cahaya yang hadir pada setiap benda. Dengan kehadiran cahaya pada benda-benda, maka benda itu menjadi terlihat. Sedetik saja cahaya meninggalkan benda, maka seketika benda itu akan terpeluk oleh kegelapan. Juga sama jika sedetik saja Tuhan meninggalkan ciptaan, maka ciptaan itu akan menemukan dirinya dalam ketiadaan.

Ringkasnya, hidup dengan segenap problematika kehidupan yang mewarnainya haruslah tak melupakan kesadaran pada tiga hal, Pertama dunia ini sipatnya sementara persinggahan menuju Tuhan. Kedua nikmatilah kehidupan ini dengan lkhlas dan berlman tak perlu menTuhankan keinginan. Ketiga sebagaimana manusia tidaklah bertindak eksploitasi sebab segala realitas adalah manifestasi Tuhan itu sendiri.[]

[Said mohammad]

Wotu, 8 November 2018

[1] Rinjani adalah sebuah desa secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, sejak tahun 2013. Penduduk desa Rinjani didominasi oleh masyarakat yang sumber mata pencariannya sebagai petani padi. [1] Albert Camus seorang Filusuf berpaham eksistensialis, 1913-1960 M. [3] Buddhis atau Buddhisme sebuah agama nonteistik mengajarkan kepercayaan, aliran, tradisi dan praktik spritualitas yang pada umumnya bersandar pada Siddartha Gautama sebagai sang Buddha.

Epilog Rindu

Sore nanti
Dengarlah lirih rintihan senja setiap kali hendak berpulang di rengkuh malam

Ia juga selalu meminta kita untuk ikut bepulang, dengan karavan terhiasi lembayung sinar redup keemasan yang disediakan, menemani perjalanan kafilah jiwa

Di sana
Jiwa kita seperti bunga Dandelion berterbangan membelah angin surgawi

Ikhlaslah jiwa kita dicecapi semesta, seperti kita tengah mencecapi perasan sari bunga mawar di kedai Tuhan.[]

***

[Said mohammad]

Palopo, 16 April 2018

Cinta dan Ruang Kontemplasi

Cinta memberikanku sayap
Tapi itulah kelemahan
karena sejak saat itu
aku pun tergoda untuk terbang

Cinta memberiku mata
Tapi itulah kelemahan
karena sejak saat itu
aku pun tergoda untuk menerawang

Cinta memberiku kaki
Tapi itulah kelemahan
karna sejak itu aku
tergoda menziarahi waktu

Cinta memberiku tangan
Tapi itulah kelemahan
karna sejak itu aku
tergoda menggengam harapan

Cinta memberiku apa yang tak pernah kudapatkan, tapi itulah kelemahan
karena tawa dan tangis telah bersenyawa dalam satu nampan.[]
***
[Said mohammad]
Rinjani, 27 September 2018

Karavan Cahaya

Saya mendapat kiriman sketsa photo dari kawan di kampung, mungkin tidak seberapa megah cerita yang ingin disampaikan melalui photo itu.

Tetapi begitulah malam ini di kampung; “Sekumpulan anak-anak surau memutuskan untuk menghidupkan malam dengan menyalakan obor yang temaram nan redup di tengah lautan gelap dan pekatnya kampung.

Mereka berkeliling kampung menyuarakan takbir, tahmid dan tahlil dengan berjalan kaki bareng-bareng menyusuri setiap sudut gang-gang kampung, di iringi oleh grobak kecil tempat diletakkannya pengeras suara dan tabuh yang mereka rakit berjamaah sore tadi.

Yang ikut berkeliling bukan hanya mereka dari anak anak surau tapi juga saya menyaksikan nenek-kakek pun juga anak kecil yang duduk dibangku tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar ikut serta tak mau ketinggalan. Seumpama lautan manusia yang berduyun-duyun menaiki Karavan menuju surga.

Saya juga terkaget mendengar suara takbir mereka yang menggema sampai ke ulu hati. Sayangnya saya hanya bisa menikmati itu melalui video berdurasi pendek yang dikirim kawan.

Mereka hendak menjemput hari kemenangan pagi besok setelah sebulan penuh mereka menahan diri, hati dan jiwanya dari segela yang dilarang oleh Tuhan, sebagaimana kaum-kaum terdahulu.

Kita juga pasti bisa menikmati kemeriahan bersama mereka kelak saat menghidupkan malam menjemput hari yang Fitri itu, yang kita juga belum tahu pada lintasan waktu yang mana kita dipertemukan kembali.

Lalu sepintas saya teringat syair yang pernah Mustafa Cahmran kirimkan pada Ghadeh (seorang gadis wartawan, penyair sekaligus penulis berdarah kota Lagos Afrika).

Begini Syair Musfata Chamran untuk Ghadeh itu; “Mungkin aku tak dapat mengusir gelap ini, tapi dengan nyala nan redup ini, kui ngin tunjukkan pada gelap dan terang, kebenaran dan kebatilan, orang yang menatap nyala, meski temaram, kan nyala terang di hatinya yang dalam.” Semoga kau menikmatinya juga Brader.[]

***

[Said mohammad]

Rinjani, 15 Juni 2018

POLITIK, AGAMA DAN MANUSIA (dalam tafsiran)

Hidup di desa memang semuanya jadi serba lamban semisal mengakses informasi perkembangan terkini dunia politik, ekonomi, pendidikan nasional dan global (sekalipun saya bukan panggiat partai politik, bisnis ekonomi, dan pendidikan; hanya saja masih doyan melestarikan kebiasaan lama dulu ketika masih hidup dalam lingkup Civitas Academica). Sekalipun itu adalah bukan sebuah kemerdekaan, karna masih menjebakkan oleh masa silam.

Istilah untuk manusia yang tengah bergelut dalam komunitas kelompok dan atau warga akademik. Sekalipun istilah civitas academica adalah istilah yang populer tapi menyesatkan sesungguhnya, karena di luar negeri istilah ini tidak digunakan, karena mereka paham istilah itu adalah salah.

Bahasa latin yang dilokalisasi yang benar-benar populer dan pasih kita gunakan akan tetapi celakanya tidak mampu mengambarkan makna seseungguhnya, imbasnya mengalami distorsi hingga bahkan deviasi.

Konon saat hidup dalam lingkup kampus kita doyan meneriaki ribuan kebijakan yang dinilai merugikan hajat hidup orang banyak sekalipun saat itu juga tidak ada yang benar-benar tuntas, mungkin hanya sekedar sensasi salah satu motif untuk mencipta kenangan di masa tua, ataukah benar-benar menjadi kekuatan untuk ikut mendorong lahirnya peradaban yang dicita-citakan. Nah di desa semua itu lamban untuk di akses dan di nikmati.

Biasanya isu yang berhasil di lahirkan dari rahim tertentu untuk kemudian dihidupkan di tengah-tengah masyarakat sangat bergantung pada moment dalam tujuan tertentu. Sebut saja tahun 2018-2019 dipastikan akan diramaikan oleh isu politik. Beberapa minggu lalu sudah di tetapkan sekian banyak partai politik resmi menjadi peserta pemilu 2019 dari partai muda sampai tua, dari baru sampai lama.

Pada partai itu pewakil suara masyarakat terwakilkan dengan harapan efektif dengan mengedepankan aspek partisipatif apakah itu memunkinkan!? Amat bergantung dari kepentingan partai.

Akan tetapi sayangnya politik sudah kadung di tampilkan sebagai wahana perebutan kekuasaan dengan segala cara, halal atau tidak, baik atau tidak, melabrak etik atau tidak, yang terpenting “saya menang” merebut tahta. Politik disimpulkan “gagal” membumikan keadilan, kesetaraan, kesetaraan, dan kemakmuran sejak kita merdeka 73 Tahun silam.
kegagalan” ini memaksa sebahagian orang mencari dan merumuskan semacam obat penawar yang lebih praktis mencipta peradaban untk keadilan dst dengan menawarkan system alternatif lain semisal agama soal kilafah, monarki, oligarki dst.

Agama menjadi solusi yang paling condong diminati, ada kilafah atau lmamah dst. Yang juga konon bias karena agama selalu diekspresikan secara berlebihan, Al-Qaeda, Isis, dan beberapa gerakan lain dengan kekerasan membuat kita bertanya ulang dimana letak nilai Tuhan yg dimanifetasikan dalam Agama dan pengikut-Nya!?

Saya tidak yakin Agama bisa hidup tanpa manusia, dan manusia menemukan kemuliaan tanpa agama; sebab agama lahir dari sentuhan manusia dan Tuhan yang mengandung panduan nilai keadilan dan keabadian tapi kenapa itu ditampilkan condong dengan jalan kekerasan, sok agamais, sok spritualis, dan sok-sok yang lain yang justru menampilkan ketidak beragamaan !??

Nah hasil ciptaan politik selama 73 tahun dan ciptaan tata nilai dari Agama selama 4000 tahun silam memksa kita menanyakan ulang dimana keterhubungan agama dan politik!? yang kesejatiannya memiliki tujuan yang sama tentang keadilan dan kemakmuran!?

Pada titik di atas tafsir memainkan perannya. Setiap ajaran dan teori selalu membutuhkan tafsir yang benar lagi baik sebelum dipahami dan dilaksanakan di tingkat yang lebih luas. Dan manusia memainkan peran itu sebagai; mahluk penafsir. Karna manusia selalu menafsir dunianya, panduan nilai dan bertindak sesuai hasil tafsirannya.

Politik, Agama dan manusia sebagai penafsir menjadi penentu.Tantangannya adalah apakah benar kita sebagai manusia telah melakukan tafsir yang historis, kritis, logis, adil, manusiawi dan damai terhadap beragam ajaran agama yang ada, sehingga ia bisa menunjang terciptanya politik yang juga adil, bebas, mendorong kesetaraan serta kemakmuran bersama.[]
***

[Said mohammad]

Wotu, 11 Maret 2018

Penggembala Cahaya Bulan

Di sore temaram, usai gerimis dan sisa lembab di bibir semesta, seekor kupu-kupu muda bertengger dipucuk dedaunan kering menahan dingin merapikan sayap terkena rembesan hujan. Ia hanya seorang diri, setelah terpisah dari koloni kawanannya hendak menuju musim semi bebungaan.

Terlena temaram senja, dan terhenti membujuk waktu merubah warna menjadi jingga sejingga senja. Waktu tak terbujuk, dan warna sayapnya tak berubah, tetap biru keputih-putihan. Waktu telah menipu dan perangkap bagi kupu-kupu, merasa susah dan bahagia telah merenggut jasad dari jagad koloninya.

Waktu adalah portal kosmik yang diberi bingkai, seperti sedinding lukisan absurd dalam bejana galaksi yang tak pernah terpikirkan. Waktu juga hanyalah begundal tengik yang bersembunyi di punggung sore temaram, merantai sayap kupu-kupu malang menuju musim bebungaan tempat harapan kehidupan baru di impikan.

Hujan tak redah sampai pekat malam menyelimuti dedaunan dan dirinya. Kupu-kupu muda malang tak sanggup melacak jejak, kerutkan sayap tersandra hujan. Kunang-kunang muncul kesiangan, mengembalakan cahaya bulan mengitari malam dari savana ke savana.

Kupu-kupu ditemani kunang-kunang tunggangi karavan cahaya bulan sampai ke gerbang fajar menuju musim. Sebentar lagi aku harus pulang, segenap ketulusan hati kuantar sampai di pintu gerbang, aku selalu ada di antara savana, mengembala cahaya bulan mengitari malam.

Suara kupu-kupu bersenyawa menjadi udara, tak terdengar apa-apa lagi olehku selain kepakan sunyi menjelma sayap menatap kunang-kunang, “mengapa sangat tergesa-gesa engkau pulang?

Kunang-kunang terbang sembari berucap pelan, “keindahanmu tak akan hilang dalam dada, nikmatilah musim bebungaanmu”.[]

***

[Said mohammad]

Rinjani, 2 November 2018

Belajar Demokrasi Dari Desa

Di desa jauh sebelum bangsa ini merdeka dan mengenal sistem demokrasi, desa telah menghidupkan ruang demokrasi sesungguhnya.Betapa tidak jika di lihat dari beberapa faktor:

Pertama sejak dulu desa memiliki hubungan sosial yang dibangun dari kekerabatan secara empiris dan personal atar sesama penduduk desa, bukan hubungan sosial yang dibangun secara imajiner terlebih dahulu. Atas dasar hubungan sosial masayarakat desa itu ahirnya membetuk pola sikap dan norma pergaulan semisal hubungan orang yang lebih tua dan yang lebih muda, saudara dekat dan saudara jauh, berkerabat atau tidak berkerabat, raja dan rakyatnya.

Kedua tingginya intensitas kehidupan masyarakat dan ruang kehidupan di desa. Tanah dan ruang yang masyarakat desa tinggali bukanlah semata-mata ruang mati yang bisa ditinggalkan pergi dan di jual sesuka hati. Bagi masyarakat desa tanah yang meraka tempati tinggal dan diolah sebagai sumber penghasilan sama pentingnya dengan kehidupan itu sendiri. Jadi bagi mereka merawat tanah yang ada di desa sama dengan merawat diri manusia sendiri. Keliru bila melihat hubungan masyarakat dan tanah di desa dimaknai sebagai motif ekonomis semata, hemat saya hubungan semacam itu adalah keterikatan penghormatan dan bentuk kesyukuran seorang manusia kepada Tuhan yang diaktualisasikan dalam bentuk penghargaan kepada tanah, udara, dan api dengan tindakan-tindakan ramah lingkungan yang kemudian masyarakat desa simpul penghargaan itu sebagai local wisdom.

Ketiga kehidupan masyarakat di desa tidak se-formal kehidupan masyarakat di kota. Masyarakat di desa punya pengalaman hidup secara bersama, digerakkan oleh tradisi yang dibentuk dalam lintasan sejarah berabad silam. Tak seperti di kota yang dibentuk oleh industri, tata hidup di kota absurd dalam banyang-bayang realitas semu. Desa memiliki adat-istiadat, sistem kelembagaan politik yang tradisional. Contoh kasus di desa saat menentukan pemilihan siapa yang berhak menjadi kepala desa, maka ditentukan secara trah atau keturunan sebagai rujukan peniliaan siapa yang layak menjadi kepala desa. Bukan seperti politik transaksional di perkotaan.

Keempat di desa solidaritas masyarakatnya bersifat mekanis yang kental dengan nuansa kolektivistik. Masyarakat yang terikat oleh rasa kebersamaan dengan saling topang-menopang dan kegotong-royongan yang tinggi. Masih ingat?! bagimana Rezim Orde Baru memandang nuansa kolektivistik yang ada di desa itu sebagai nuansa yang menghambat laju pembangunan, itu terjadi karena terlanjur silau dengan model pradigma pembangunan modernisasi Barat. Yang di UU nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa itu justru diakui dan diterima sebagai fakta objektif yang telah berlangsung berabad-abad silam sebagai potensi kemajuan masyarakat desa, termasuk dalam melihat mengamalkan corak hidup “berdemokrasi”.

Desa sudah seharusnya memahami dirinya sebagai self governing community. Komunitas yang mampu mengatur dirinya sendiri dengan caranya masing-masing yang khas sesuai tradisi dan local wisdom kehidupan masyarakat dan desanya.

Jika demokrasi dimaknai sebagai kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat maka sifat demokrasi di desa lebih menekankan sisi koletifitas masyarakat desa.

Dalam sifat kolektifitas itu, masyarakat desa memiliki kecendrungan umum untuk mendahulukan permusyawaratan ketimbang pemungutan suara. Sekalipun model demokrasi kota menjamin kebebasan, jujur, adil, terbuka dan rahasia. Akan tetapi yang mesti dipahami bahwa masyarakat desa tidak serta merta melepaskan dan menghilangkan sifat kolektifitas yang berbalut local wisdom itu sebagai sebuah fakta objektif terhadap sosio budaya masyarakat yang mereka miliki sejak lama, bukan cangkokan mentah-mentah dari luar.

Ringkasnya, sistem demokrasi yang ada desa dahulu kala merupakan cerimanan dari sistem permusyawaratan yang luhur dalam menetukan pemimpin tanpa mengijak-injak sisi kemanusiaan. Di tengah tahun politik 2019 semoga pemilu Caleg DPRD, DPD, DPR RI, dan PILPRES telah memahami dan menghargai sifat tradional demokrasi ala desa yang telah ada sejak dulu.[]

***

[Said mohammad]

Rinjani, 1 November 2018

EKONOMI DESA (penyelamat kebangkitan ekonomi lndonesia di masa depan)

“Indonesia tidak akan besar karna obor di Jakarta, tapi akan bercahaya karena lilin-lilin di desa”. [Bung Hatta]

Semenjak UU nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa disahkan dan diberlakukan di lndonesia, maka sistem pemerintahan kelurahan, Desa, dan Desa Adat di seluruh lndonesia sedang diterpa angin kebebasan menuju gerbang kemandirian untuk menentukan nasibnya sendiri. Sebab tidak main-main dalam undang-undang itu, Desa memberikan dua azas yang fital dan subtansial yakni hak Rekognisi dan hak Subsidiaritas.

Rekognisi pengakuan negara yang diberikan kepada desa atas adat istiadat dan norma kehidupan masyarakatnya yang sudah lama ada sejak dahulu kala dengan istilah hak asal usul desa. Subsidiaritas pengakuan negara yang diberikan kepada desa untuk menetapkan kewenangannya bersekala lokal dengan pengambilang keputusan secara lokal untuk kepentingan lokal masyarakatnya.

Dengan dua kewenangan inilah Desa diharapkan sudi menjemput takdirnya untuk mandiri dan merdeka, menjemput kedaulatannya dan menentukan nasibnya sendiri. Kewenangan yang bergitu sangat luar biasa dan istimewa bagi penghidupan Desa.

Kini desa tak lagi berposisi sebagai objek pembangunan yang menunggu untuk dirubah, namun dengan kewenangan yang telah diberikan oleh undang-undang itu maka, seketika itu juga desa telah menjadi subjek pembangunan. Desa telah menjadi pencipta perubahan dalam tata pengelolahan kehidupan desanya. Tanpa intervensi oleh siapapun kecuali oleh keputusan warga masyarakatnya melalui konsensus agung desa, yang desa sebut itu sebagai ruang musyawarah desa.

Disanalah ruang ide, gagasan, imajinasi dan inovasi perihal menentukan nasib sendiri itu lahir.

Bagi saya desa tak sekedar sebagai bentangan alam dengan sekelumit aktifitas masyarakatnya, namun desa adalah sugra kecil maha luar biasa, yang Tuhan pernah ciptakan bagi hamba-Nya“. Dengan surga kecil itu maka, desa tak boleh silau dengan kemegahan dentuman rutinitas di kota, yang manusianya telah tejebak pada kehidupan Hyiper-Realitas.

Masyarakat desa tak boleh merasa kerdil dan miskin, sebab masyarakat desa sedang berdiri di atas potensi gundukan emas kehidupan. Melalui hak rekognisi dan subsidiaritas desa hanya perlu menyiapkan warganya sebagai SDM untuk mengelolah potensi yang ada dengan bijaksanan dan kearifan lokal desanya. Masyarakat desa wajib menjadi lokomotif untuk mengerakkan segala potensi alam dan manusiannya. Masyarakat desa harus jadi pelaku bukan penonton dan melanggengkan status-qou corak hidup konsumeristis dan kapitalistik perkotaan.

Dahulu semua orang percaya semua angsa berwarna putih, sampai ditemukan satu angsa hitam di Australia. Dahulu semua orang berpikir desa adalah sumber masalah, SDMnya rendah, sehingga layak terus dibantu. Saat ini bermunculan desa-desa Unicorn (desa dengan Pendapatan Asli Desa lebih dari satu milyar), yang membuka mata banyak pihak, bahwa desa bukan sumber masalah tetapi penyelamat kebangkitan ekonomi Indonesia di masa depan. Itulah ruh ekonimi kerakyatan yang pernah digagas Moh. Hatta yang disebutnya sebagai koperasi; prinsip ekonomi yang dibagun dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Kini koperasi Moh. Hatta itu diterjemahkan dalam undang-undang tentang desa sebagai BUMDesa (badan usaha milik desa) yang sebahagian dan seluruh permodalnya berasal dari kekayaan desa yang dipisahkan, digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahtraan warga masyarakat desanya sendiri.[]

***

[Said mohammad]

Angkona, 1 November 2018

[1] photo dipotret dari wilayah pengembangan destinasi wisata Desa Mantadulu Kec. Angkona Kab. Luwu Timur Prov. Sulawesi-Selatan.

[2] dengan kehadiran pendamping desa, negara menaruh harapan besar. Pendamping desa mampu memberdayakan desa sebagai self governing comminity yang maju, kuat, mandiri dan demokratis. Dengan rangkaian tanggungjawab pendampingan yang membentang; pengembangan kapasitas pemerintahan, mengorganisir, dan membangun kesadaran kritis warga masyarakat, memfasilitasi pembangunan partisifatif, memperkuat akuntabilitas lokal, mendorong desa mengoptimalkan hak rekognisi dan hak subsidiaritas yang telah dimanahkan undang-undang. Ringkasnya, pendamping desa kehadirannya dalam rangka menciptakan satu ruang frekuensi antara desa dan pendamping menuju gerbang kemandirian desa.